Main Ad

Sabtu, 24 Juni 2017

TAJUK RENCANA: NIIS dan Hilangnya Nalar Sehat (Kompas)

Sungguh tidak bisa dimengerti nalar sehat, apa yang dilakukan oleh kelompok bersenjata yang menyebut dirinya Negara Islam di Irak dan Suriah.

Menurut berita yang tersiar, NIIS menghancurkan Masjid Agung al-Nuri yang memiliki menara Al-Hadba yang berumur 850 tahun. Di masjid ini pula, pada bulan Juni 2014, Al Baghdadi memproklamasikan berdirinya NIIS. Ia juga mengangkat dirinya sebagai khalifah dengan nama Ibrahim.

Bukan kali ini saja mereka menghancurkan simbol-simbol peradaban manusia atau situs-situs bersejarah. Di Irak, mereka menghancurkan kota kuno Hatra dengan seluruh peninggalan bersejarahnya pada 2014. Kota ini dibangun pada abad ketiga Sebelum Masehi. Kota Ninive yang menjadi pusat kerajaan Assiria antara 900-600 SM, juga dihancurkan. Masjid dan makam Nabi Yunus di kota itu juga menjadi sasaran amuk mereka.

Nimrud, ibu kota pertama Assiria, didirikan sekitar 3.200 tahun silam, juga dihancurkan. Khorsabad kota kuno peninggalan Assiria tidak luput dari keangkaraan mereka. Bahkan, Mausoleum Imam Dur, tidak jauh dari Samarra, berarsitek Islam abad pertengahan juga diledakkan.

Sejumlah situs, peninggalan sejarah dan bukti tingginya peradaban manusia di Suriah dirusak dan dihancurkan. Misalnya, situs purbakala Palmyra dan Aleppo. Kota kuno, Mari, dengan kuil dan istana, serta peninggalan-peninggalan lainnya, mereka hancurkan. Mari, kota kuno di Zaman Perunggu, antara 3000 dan 1600 SM. Di Suriah, lebih dari 900 monumen atau situs arkeologi dijarah, dirusak, dan dihancurkan oleh kelompok ekstremis itu.

Yang dilakukan oleh NIIS tidak beda dengan yang dahulu dilakukan oleh Taliban, pimpinan Mullah Omar. Mereka menghancurkan patung-patung Buddha di Bumiyan pada tahun 2001. Patung-patung itu berumur 1.500 tahun. Perusakan situs arkeologi dan tempat bersejarah juga terjadi di Mali dan Aljazair.

Tepatlah kalau Mahkamah Kriminal Internasional menyebut tindakan itu sebagai kejahatan perang. Karena itu, pantas dan selayaknya untuk ditindak. Dunia tidak boleh diam, tidak boleh hanya mengecam. Tetapi, harus bertindak, sekurang-kurangnya melindungi situs-situs warisan dunia atau bersama-sama menghadapi NIIS.

Rasanya, sebagai masyarakat dunia yang beradab, sudah sepantasnya kalau ada tindakan yang lebih tegas dan nyata untuk menghentikan tindakan penghancuran situs-situs peradaban dunia itu. Kalau tindakan tidak berbudaya, tidak berkeadaban itu dibiarkan, akan semakin menjadi-jadi dan menghancurkan peradaban dunia. Meskipun, barangkali, penghancuran Masjid al-Nuri, tempat mereka memaklumkan diri akan keberadaannya, sebagai pertanda awal kekalahan NIIS di Irak.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 24 Juni 2017, di halaman 6 dengan judul "NIIS dan Hilangnya Nalar Sehat".

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

TAJUK RENCANA: Kefitrian yang Bermakna (Kompas)

Setahun sekali, saat itu kembali datang. Saat menyongsong Idul Fitri, yang oleh sebagian warga ditandai dengan mudik atau kembali ke kampung halaman.

Tidak sedikit di antaranya harus mengalami mudik yang berat, menembus kemacetan parah, juga dengan risiko lalu lintas besar. Akan tetapi, kita tunduk hormat kepada keteguhan pemudik yang seolah menafikan itu semua demi perjumpaan dan bisa melepas rindu dengan orangtua, keluarga, serta handai tolan yang merupakan bagian hidup dan eksistensi mereka. Kembali bisa bersatu dengan masa lalu yang indah pada hari nan fitri, adalah berkah yang luar biasa. Berkah yang sepadan dengan kelelahan dan risiko untuk mendapatkannya.

Jika kita renungkan sedikit lebih jauh, tradisi mudik juga berkontribusi pada pemeliharaan tenun kebangsaan. Bertemu dengan sanak saudara dan handai tolan, sambil berbagi cerita tentang pengalaman hidup (termasuk dalam acara halalbihalal nanti) niscaya bisa meneguhkan tali persaudaraan, antarkeluarga, antarkomunitas, dan antaranak bangsa.

Idul Fitri 1438 Hijriah atau 2017 ingin kita beri makna lebih jauh, terkait dengan perkembangan sosial politik yang kita alami dalam beberapa waktu terakhir. Meski titik apinya di DKI, tetapi tak disangsikan lagi reperkusinya meluas hingga ke pelosok jauh Tanah Air. Ya, Pilkada DKI, diakui atau tidak, telah mengoyak tenun kebangsaan yang selama ini kita bangun.

Dalam tausiah Ramadhan, sering kali dikutip Al Quran Surat Al-Hujurat Ayat 13. Allah SWT menegaskan kepada umat manusia bahwa Dia menciptakan manusia dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya saling kenal-mengenal. Ayat tersebut menegaskan bahwa perbedaan adalah titah Ilahi dan manusia harus ikhlas menerima ketentuan Yang Maha Kuasa tersebut.

Kita berharap bahwa ibadah saum Ramadhan dapat memupus kabut yang kemarin menyelimuti hati dan membawa kita semua ke dalam kesucian hati dan pikiran. Bagi bangsa Indonesia yang masih punya banyak pekerjaan rumah, pasca-Ramadhan adalah momen terbaik untuk membuktikan, bahwa ada banyak insan yang terlahirkan kembali dengan keimanan baru, dengan sikap mental spiritual baru, dan juga dengan saling pengertian baru.

Puasa Ramadhan telah tiba di ujung dan ketika takbir dan tahmid berkumandang, mari kita sambut hari kemenangan dengan hati putih bersih, dan pada hari raya Idul Fitri, marilah kita saling bermaaf-maafan untuk memulai lembaran baru kehidupan. Sekali lagi, masih banyak tantangan dan pekerjaan di depan mata.

Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1438 H. Minal aidin walfaizin, mohon maaf lahir batin.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 24 Juni 2017, di halaman 6 dengan judul "Kefitrian yang Bermakna".

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Air Mata Lebaran (INDRA TRANGGONO)

Jarak manusia dengan kebahagiaan, kadang terasa jauh. Begitu juga ketika Lebaran tiba. Ia menyapa kita dengan keindahan dan kedamaian. Namun, kuasa modal mencegat dan membentangkan jarak dengan harga-harga.

Mahalnya biaya jasa transportasi membuat jutaan orang berjibaku naik sepeda motor untuk mudik. Berbagai barang bergelantungan di badan sepeda motor yang kadang dinaiki lima orang: ayah, ibu, dua bocah, dan anak balita. Betapa mahalnya ongkos merayakan Lebaran. Tak hanya uang, tetapi juga jiwa.

Negara mestinya menangis dan menyesali. Cara negara menebus "dosa" sosial mestinya melalui pelayanan transportasi layak dan terjangkau serta infrastruktur yang baik. Namun, tampaknya hal itu jauh dari harapan. Problem transportasi dan infrastruktur tetap saja muncul setiap Lebaran tiba.

Lebaran mahal

Sambil membayangkan wajah orangtua, sanak-saudara dan handai taulan, jutaan manusia urban harus menempuh ratusan bahkan ribuan kilometer untuk pulang. Kembali ke asal, ke sarang primordial penuh kehangatan. Air mata kebahagiaan pun tumpah, mungkin saja disertai air mata kesedihan karena "siksaan" yang dirasakan selama menempuh perjalanan.

Lebaran jadi terasa mahal dan mewah bagi orang- orang lemah. Banyak syarat yang harus dijawab dari soal fisik, psikologis sampai ekonomis-finansial.

Kagak ada matinye, kata orang Betawi. Mereka mirip tokoh-tokoh kartun, selalu terbanting-banting tetapi tetap hidup, selalu tertawa dan tetap eksis. Perbedaan nasib baik dan buruk jadi sangat tipis. Kesialan dan kebuntungan luluh dalam jiwa, menjadi energi sintasan (daya tahan hidup) yang tiada tara. Karena itu, perjalanan menggapai kebahagiaan Lebaran yang sarat ujian, bagi mereka terlalu kecil.

Namun, Lebaran tak hanya bicara soal kekayaan hati, ketangguhan mental, dan kekuatan spiritual, tetapi juga pemenuhan syarat ekonomis-finansial. Nah, inilah masalahnya. Tidak semua pemudik, orang urban memiliki privilese bernama tunjangan hari raya (THR).

Para pegawai negeri bisa menatap Lebaran dengan mata terang: ada gaji ke-13 yang jadi logistik cadangan. Para karyawan swasta bisa menebar senyum lebar karena perusahaan tempat mereka kerja memberikan uang tunjangan. Namun, jutaan orang urban yang hidup di luar struktur dan lembaga, mau minta THR kepada siapa?

Minta THR kepada wakil rakyat? Itu tak ada regulasi dan mekanismenya, bung. Dan, sejak kapan wakil rakyat bermurah hati kepada pihak-pihak yang mereka wakili? Bukankah mereka sendiri masih merasa kurang sejahtera di tengah limpahan uang gaji dan pelbagai tunjangan jabatan lain. Bukankah mereka kini "sedang berjuang" untuk semakin menunjukkan eksistensinya, antara lain dengan hak angket untuk "mengoreksi" KPK? Mereka sibuk, bahkan sangat sibuk untuk mengamankan kekuasaan dan kepentingannya.

Absurditas

Sudah sangat lama rakyat menjadi yatim-piatu negara. Tak punya pengayem(penjamin kesejahteraan optimal) dan pengayom (protektor). Rakyat selalu dibiarkan bertarung dengan kekuatan modal yang mendominasi wilayah ekonomi. Tak sedikit pun tersedia ceruk untuk hidup wajar, lumrahe menungsa.

Rakyat miskin papa hanya bisa mengais-ais limbah pesta. Dengan penghasilan yang luar biasa kecilnya, rakyat miskin papa dipaksa bertahan dalam hidup berbiaya tinggi. Negara selalu menguji ketabahan rakyat untuk bisa hidup dalam absurditas yang diciptakannya. Konstruksi absurditas itu jauh lebih absurd daripada lakon-lakon Samuel Bechett dan Ionesco.

Namun, rakyat miskin papa selalu memiliki kebesaran jiwa. Tak pernah merengek dan mengemis fasilitas pada negara. Rakyat menjadi sangat tangguh justru karena kedalaman penderitaannya. Mereka jauh lebih kuat daripada kelas sosial menengah yang manja, serba menuntut dan kalau perlu korupsi.

Rakyat miskin-papa telah melupakan mitos-mitos tentang perubahan. Termasuk melupakan "ratu adil" baik yang diasumsikan dengan sistem sosial yang adil atau himpunan penyelenggara negara yang berhati baik serta para pelaku filantropi.

Rakyat semakin meyakini, nilai-nilai "ratu adil" itu semakin tergerus pragmatisme sempit sehingga potensi-potensi kebaikan pun terabsorsi. Ini terjadi pada hampir semua lini kehidupan, terutama politik dan ekonomi. Politik tidak lagi menjadi wahana pendorong perubahan yang berpihak pada rakyat. Partai politik nyaris menjadi "kendaraan rental" bagi para pemburu kekuasaan atau menjadi "perusahaan" yang berideologi keuntungan.

Demi kepentingan itu, parpol bahkan tega melukai rakyat, sang ibu kandung yang melahirkannya. Keadaan ini diperparah dengan dunia ekonomi neo-liberal yang hanya memproduksi kerakusan dan kekejaman pada rakyat. Ironisnya, berbagai dekadensi itu terjadi seiring riuhnya retorika nilai-nilai Pancasila. Bagaimana mungkin nilai-nilai Pancasila yang pro-kemanusiaan menyatu dengan neo-liberalisme yang anti-kemanusiaan?

Lebaran adalah oase spiritual dan sosial bagi rakyat secara lintas batas (agama, suku, golongan dan ras). Dalam oase itu rakyat menemukan kembali kemanusiaannya melalui penguatan komitmen atas nilai-nilai kebersamaan. Negara selayaknya terpanggil menjadi regulator dan fasilitator yang baik. Begitu juga dengan kalangan pengusaha.

Mereka semestinya bisa menempuh tindakan etis filantropis, dengan membagi keuntungan besarnya kepada rakyat, yang selama ini menjadi pasar potensial bagi produk-produk mereka. Jika gagasan penting itu bisa diwujudkan, air mata rakyat tidak akan terlalu banyak tumpah di jalan-jalan. Rakyat pun membalas negara dan budi baik pengusaha itu dengan kepercayaan.

INDRA TRANGGONO

Pemerhati Kebudayaan dan Sastrawan

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 24 Juni 2017, di halaman 6 dengan judul "Air Mata Lebaran".


Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Menakar Kesalehan Sosial Kita (A HELMY FAISHAL ZAINI)

Gemuruh takbir bergema menyambut datangnya Idul Fitri, sekaligus mengakhiri kekhusyukan umat Islam beribadah selama bulan suci Ramadhan. Gema takbir menjadi penanda kemenangan telah tiba.

Jika kita renungkan secara mendalam, gema takbir sesungguhnya merupakan ikrar dan pernyataan kita selaku hamba-hamba yang daif di hadapan Sang Khalik Yang Maha Agung.

Makna takbir, dalam hemat saya, sesungguhnya adalah keadaan menisbikan diri karena tak ada yang lebih besar dibandingkan dengan Allah SWT. Manusia pada dasarnya merupakan makhluk yang penuh keterbatasan, kekurangan, dan kedaifan.

Menilik makna takbir secara ontologis yang demikian mulia, maka ketika mengucapkannya tidak boleh dibarengi dengan kesombongan dan keangkuhan diri. Sebab hal itu sejatinya bertentangan dengan hakikat takbir itu sendiri.

Menurut pakar bahasa Arab, Tamam Hassan (1988), makna takbir sejatinya adalah penisbatan sesuatu kepada yang lebih besar. Artinya jika kita bertemu benda, fenomena, atau hal-hal yang kita anggap besar, Allah SWT sesungguhnya jauh lebih besar dari semua itu.

Sejatinya Allah itu Maha Lebih Besar dari yang kita perkirakan. Kebesaran Allah jauh melampaui apa yang kita asumsikan. Sebab, asumsi dan perkiraan kita sebagai makhluk sangatlah terbatas.

Dalam bahasa budayawan Emha Ainun Nadjib (2016), memaknai kebesaran Allah harus bersifat dinamik, tidak statis. Seorang hamba yang benar-benar menemukan kebesaran Allah, akan senantiasa merendahkan diri di hadapan Allah.

Akurasi dalam memaknai takbir ini dalam pandangan saya akan sangat berpengaruh pada pola penghayatan keberagamaan kita. Semakin dangkal kita memahami arti takbir, semakin dangkal pula gerakan dan tindakan beragama kita.

Bahkan belakangan fenomena takbir banyak digunakan untuk sesuatu yang tidak tepat. Inilah letak pentingnya presisi dan akurasi pemaknaan yang berujung pada pemahaman yang baik.

Dalam pada itu, gema takbir yang menandai datangnya Idul Fitri membawa kita pada dua makna, yakni kemenangan dan kembali pada kesucian. Kemenangan yang dimaksud meminjam Al-Jurjani (2008) adalah kemenangan yang diraih seorang hamba karena berhasil berperang menaklukkan hawa nafsu selama sebulan penuh. Maka hal yang dianjurkan adalah fitr atau iftar yang artinya berbuka.

Ada sebagian yang memaknai Idul Fitri sebagai momentum kembali kepada kesucian diri. Makna ini sejalan dengan sebuah hadis yang diriwayatkan Ibnu Khuzaimah "Inilah bulan yang permulaannya (10 hari pertama) penuh dengan rahmat, yang pertengahannya (10 hari pertengahan) penuh dengan ampunan, dan yang terakhirnya (10 hari terakhir) Allah membebaskan hamba-Nya dari api neraka."

Berangkat dari hadis inilah-yang membagi Ramadhan jadi tiga fase yakni rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka-seorang hamba yang berhasil menjalankan ibadah puasa selama Ramadhan berarti telah suci dari segenap dosa yang pernah ia perbuat. Itulah makna kembali ke fitrah atau kembali ke kesucian diri.

Kesalehan sosial

Dalam konteks Ramadhan, ibadah puasa sesungguhnya merupakan ibadah yang melatih kita berbela rasa terhadap sesama. Kita diwajibkan mengosongkan perut sampai berbuka puasa, itu artinya kita diajak untuk memahami suasana batin masyarakat miskin dan lemah. Masyarakat yang bukan saat bulan puasa saja menahan lapar, tetapi bahkan sepanjang tahun.

Selama Ramadhan kita diajarkan untuk berzakat, infak, dan sedekah untuk berbagi dengan sesama. Ajaran berderma terhadap mereka yang papa dan lemah, menjadi bukti bahwa agama amat menjunjung tinggi solidaritas kemanusiaan. Agama hadir dan berperan melindungi yang lemah.

Islam menjunjung tinggi kemanusiaan, membangun solidaritas sosial, terutama mengajak membantu kaum yang lemah. Dalam Al Quran Surat Al Maun, umat Islam diingatkan tentang makna penting membangun kesalehan sosial.

Tak tanggung-tanggung, Allah SWT mengecam manusia yang hanya mementingkan ibadah mahdlah, tetapi meninggalkan kesalehan sosial. "Fawailul lil mushollin. Alladzinahum an shalatihim sahun walladzinahum yurauna wayamnaunal maun".

Celakalah orang-orang yang lalai terhadap shalatnya. Yakni, orang-orang yang selalu berbuat dengan pamrih sehingga menghalangi diri dan orang lain untuk menolong siapa pun yang membutuhkan. Inilah bukti bahwa kesalehan yang berdimensi sosial menempati posisi yang sangat penting dalam agama Islam.

Dalam pada itu, pada konteks Idul Fitri dan kesalehan sosial ini, tradisi khas masyarakat Nusantara yang tidak ditemukan di belahan Bumi mana pun adalah tradisi halalbihalal. Tradisi ini lazimnya diisinya dengan kunjung-mengunjungi sanak-saudara, handai tolan, teman-sekerabat untuk saling meminta dan memberi maaf.

Halalbihalal tersebut merupakan salah satu ibadah berdimensi sosial. Ia memiliki ekses dan dampak langsung yang bisa dirasakan secara sosiologis. Sebagai bagian dari upaya menjaga harmoni, tradisi memaafkan yang tecermin dalam halalbihalal merupakan tradisi yang tidak bisa tidak, ia harus dilestarikan, dipertahankan, dan bahkan dikembangkan.

Salah satu bukti pentingnya dimensi sosial dalam ibadah tecermin dalam salah satu kaidah fikih al-muta'adi afdhalu minal qÃsir yang artinya ibadah-ibadah yang muta'adi (memiliki ekses sosial) lebih utama dibandingkan dengan ibadah yang sifatnya qasir (individual) semata.

Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW: "KhairunnÃs anfauhum linnÃsi. Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi yang lainnya.

Sama persis dengan hal itu, maaf-memaafkan adalah ibadah yang memiliki ekses sosial yang sangat tinggi. Memberi maaf, meminjam istilah Mahatma Gandhi, adalah pekerjaan orang kuat. Orang-orang yang bermental lemah dan berpikiran cupet tidak akan pernah bisa memaafkan.

Pada titik ini saya ingin mengutip sejarawan besar Edward Gibbon (1999) dalam bukunya The History of The Decline and Fall of The Roman Empire,yang mengatakan bahwa a great civilization never goes down unless it destroy itself from within. Sebuah peradaban besar tidak bisa runtuh dan tenggelam, kecuali jika peradaban itu merusak diri dari dalam.

Kondisi ini sangat mungkin terjadi jika kita berkukuh dengan ego dan ngotot dengan kebenaran masing-masing. Merasa paling benar. Merasa yang lain di luar dirinya salah. Angkuh dan cenderung tidak bisa memaafkan pihak lain. Jika dibiarkan, sangat mungkin sindroma self destruction (merusak diri sendiri) yang pernah diungkapkan Presiden Soekarno, menjadi kenyataan. Kita pun tidak menginginkan.

Idul Fitri adalah momentum yang tepat untuk menyambut datangnya kemenangan. Kemenangan bagi mereka yang tak sekadar menjalankan ibadahmahdlah saja (hablum minallah), akan tetapi juga berlaku baik kepada sesama manusia (hablum minannas) dalam kehidupan sehari-hari.

Lebih jauh, kita pun diajarkan untuk menjaga alam dan lingkungan (hablum minal alam). Semoga kita selalu diberi anugerah kesejukan dan keberkahan dalam kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara. Wallahu a'lam bis showab.

A HELMY FAISHAL ZAINI

Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 24 Juni 2017, di halaman 6 dengan judul "Menakar Kesalehan Sosial Kita".

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Upaya Preventif Melawan Terorisme (EKO SULISTYO)

Aksi terorisme sudah menjadi ancaman global bagi umat manusia. Belum lama kita dikejutkan oleh bom bunuh diri di Halte Transjakarta Kampung Melayu, Jakarta, yang menewaskan beberapa orang dan melukai puluhan lainnya.

Dalam waktu berdekatan aksi serupa dilakukan di Inggris, Pakistan, dan Mesir. Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) mengklaim bertanggung jawab atas berbagai aksi terorisme itu.

Dalam waktu yang hampir sama, Pemerintah Filipina mengumumkan ada empat teroris asal Indonesia yang terlibat dalam pertempuran di kota Marawi yang diduduki para teroris kelompok Maute. Sementara Polri merilis informasi bahwa tujuh warga Indonesia (WNI) terlibat aksi terorisme di Marawi, Filipina selatan.

Peristiwa di Inggris, Filipina, dan Indonesia terkait satu sama lain sebagai aksi global terorisme yang dikoordinasikan oleh NIIS. Karena itu, diperlukan perencanaan strategis dalam rangka pencegahan dan penanggulangan aksi terorisme. Perencanaan ini memerlukan dukungan kebijakan yang kuat, baik dari sisi penegakan hukum maupun dari sisi preventif melawan terorisme.

Revisi UU No 15/2003

Revisi Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme yang sedang dibahas di DPR perlu dibahas secara komprehensif, baik dari pendekatan pemberantasan (hard approach) maupun pencegahan (soft approach). Pemberantasan memiliki pengertian dilakukan setelah peristiwa terjadi. Sementara pencegahan memiliki arti agar tindakan terorisme tidak terjadi.

Tulisan ini menekankan upaya memperkuat langkah preventif sebagai strategi pencegahan agar terorisme tidak berkembang. Langkah ini perlu melibatkan masyarakat sipil sebagai pembawa pesan melawan narasi dan pengaruh kelompok pendukung terorisme.

Dalam rangka tindakan preventif melawan terorisme dan membangun kontra narasi, maka berbagai kelompok sosial dapat menjadi pembawa pesan strategis dalam upaya pencegahan. Kelompok strategis yang dapat dilibatkan untuk melakukan kontra narasi ini meliputi; tokoh masyarakat dan pemimpin agama, para mantan teroris, keluarga, korban dan orang-orang yang selamat, dan pemerintah.

Dalam konteks ini, penguatan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menjadi strategis. Badan ini dibentuk untuk mengembangkan kebijakan, strategi, dan program serta mengoordinasikan berbagai lembaga negara yang terkait dalam implementasi kebijakan melawan terorisme (counter-terrorism).

Kontranarasi radikalisme

Salah satu langkah strategis sebagai upaya preventif menghadang pengaruh paham ekstrem dan terorisme adalah dengan melakukan gerakan melawan narasi terorisme dengan sasaran masyarakat umum, pemberi pengaruh utama, simpatisan gagasan ekstrem, dan pelaku terorisme itu sendiri.

Sara Zeiger (2016) dalam "Melemahkan Narasi Ekstremis Brutal di Asia Tenggara", menyatakan untuk membuat kontra narasi dari kelompok radikal dan terorisme perlu dilakukan analisis faktor-faktor pendorong dan penarik yang menjadi penggerak radikalisme dan rekrutmen.

Faktor pendorong merujuk pada keluhan sosial-ekonomi yang berkaitan dengan kekuatan dan tekanan eksternal pada seseorang, misalnya ketegangan etnis, kurangnya peluang ekonomi, pengangguran, pendidikan rendah, tindakan pemerintah atau militer. Faktor penarik merujuk pada berbagai faktor psikososial yang menarik seseorang ke arah ekstremisme brutal, misalnya ideologi, keinginan menjadi pahlawan, dan insentif ekonomi.

Selama ini ada empat narasi utama yang digunakan dalam melakukan rekrutmen yang dilakukan oleh kelompok teroris, yaitu narasi religius atau ideologis, narasi politik, narasi sosial, dan narasi ekonomi. Dengan memahami narasi dominan tersebut maka dapat dipahami bahwa tindakan militer dan penghukuman tidak cukup untuk memberi dampak mencegah pengaruh paham terorisme. Langkah tersebut harus komplementer dengan kontra narasi yang dilakukan di luar operasi represif, melalui penyadaran kognitif.

Upaya pencegahan atas bahaya terorisme juga dapat dilakukan dengan tiga pendekatan. Pertama, melakukan kontra radikalisme kepada berbagai kelompok yang belum terinfeksi dengan ideologi ekstrem. Kelompok korban dan mantan teroris yang sudah sadar dapat terlibat dengan melakukan kampanye di sekolah-sekolah tentang bahaya terorisme.

Kedua, melakukan disengagementkepada anggota kelompok radikal dan mantan teroris untuk memutus penggunaan kekerasan. Ketiga, upaya program deradikalisasi kepada mantan anggota jaringan terorisme untuk menanggalkan ideologinya yang ekstrem dan berkampanye menentang terorisme.

Selain itu, pendekatan untuk mencegah publik mendukung radikalisme dan terorisme adalah dengan cara melibatkan para korban terorisme itu sendiri yang kebanyakan adalah orang biasa, dan banyak yang satu agama dengan pelaku. Para korban dan keluarganya akan lebih menyentuh hati dan perasaan publik, bahwa korban utama dari terorisme adalah kemanusiaan. Karena itu, terorisme harus dihentikan.

Korban dan orang-orang yang selamat dari terorisme adalah pembawa pesan utama yang kredibel, karena mereka mengungkapkan dampak yang nyata dari kekerasan dan kisah mereka dapat mematahkan legitimasi terorisme dan menunjukkan wajah manusiawi dari konsekuensi aksi terorisme.

Pada akhirnya, terorisme adalah musuh kemanusiaan dan musuh semua agama. Karena itu, upaya preventif bukan saja menjadi urusan pemerintah, tetapi juga urusan semua orang yang ingin melindungi kemanusiaan. Upaya preventif haruslah merupakan sinergi antara pemerintah dan masyarakat. Dengan cara itu ruang gerak terorisme tidak memiliki masa depan.

EKO SULISTYO

Deputi Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi Kantor Staf Presiden

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 24 Juni 2017, di halaman 7 dengan judul "Upaya PreventifMelawan Terorisme".


Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Pelajaran dari Marawi (SUHARDI ALIUS)

Bulan Ramadan yang penuh berkah, kini menjadi genangan air mata dan darah di Marawi, Mindanao, Filipina.

Orang-orang tergeletak tak bernyawa di sepanjang jalan, di antara reruntuhan bangunan, atau di tengah hutan. Mereka yang hidup pun penuh ketakutan, kelaparan, sebagian disandera atau terancam dibombardir. 

Otoritas Filipina menyebut sedikitnya 1.000 warga masih terjebak di sebagian wilayah kota Marawi. Mereka yang nekat menerobos batas kota diterjang peluru, hanya sedikit warga yang berhasil keluar hidup-hidup.

Pertempuran di Marawi memasuki minggu keempat sejak diberlakukannya darurat militer di Mindanao oleh Presiden Filipina Rodrigo Duterte. Meskipun tentara Filipina berhasil menewaskan 200-an militan pro Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS), dari polisi atau tentara Filipina juga berjatuhan korban. Sedikitnya 26 warga sipil dan 58 polisi atau tentara Filipina tewas selama pertempuran di Marawi.  

Berlarutnya tentara Filipina dalam menguasai daerah itu karena pertempuran terjadi di kawasan perkotaan, lansekap gunung, dan hutan di tengah kepulauan mempersulit tentara Filipina. Bahkan para militan ada yang bersembunyi di tengah permukiman. Mereka menjadikan warga sipil sebagai "tameng manusia" saat menghadapi serangan tentara Filipina.

Sudah lama tercium militan terkait NIIS bercokol di Filipina selatan itu sehingga membuat waspada negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Ada empat kelompok militan, Ansarul Khilafah Philippines (AKP), Klan Maute, dan Fron Pembebasan Islam Bangsamoro (BIFF), dan kelompok Abu Sayyaf. Keempat organisasi militan itu berbaiat kepada NIIS dua tahun lalu. Kelompok tersebut menyatakan pemimpin Abu Sayyaf, Isnilon Hapilon, sebagai pemimpin NIIS Asia Tenggara.

Polri, BIN, TNI, dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) telah meningkatkan kewaspadaan di pulau-pulau terluar wilayah  Sulawesi Utara, Maluku Utara, dan Kalimantan Utara yang dapat menjadi jalur pelarian teroris dari Marawi. Kita tak ingin terorisme mendapatkan ruang dan tempat di Indonesia.

Merusak harmoni

Aksi terorisme kerap memakai jargon keagamaan, jihad, dan pengutipan kitab suci (seperti NIIS, Al Qaeda, Al-Nusra, Taliban, dan Boko Haram). Hal itu memberikan kesan bahwa terorisme diajarkan oleh agama. Para pemimpin dunia maupun tokoh agama telah menyuarakan terorisme itu tak punya agama, tak memandang suku atau wilayah.

Sebagai negara majemuk dengan penduduk mayoritas Muslim, selama ini kita hidup   harmonis dengan semua suku, agama, ras, dan keragaman lain.  Terorisme tidaklah menggambarkan masyarakat kita. Tapi aksi teror membuka kita bahwa bahwa ada saja warga yang terjaring terorisme dengan beragam motif seperti perjuangan politik, solidaritas terhadap konflik di Timur Tengah, iming-iming kesejahteraan, atau masalah individu yang gagap menjalani hidup di tengah era globalisasi, era digital, era media sosial saat ini.

Beberapa aksi intoleransi, antiminoritas, radikal, teror tampak memenuhi halaman depan media massa maupun media digital. Diamnya silent majority(mayoritas yang diam) - atau kalau pun ada - tenggelam dan tak bergaung, sehingga yang tampak kemudian bukan lah wajah Indonesia yang ramah, santun, toleran, suka menolong.

Sebenarnya kelompok ini secara persentase sangat kecil, tetapi terkesan dominan karena didiamkan dan dibiarkan dengan berbagai argumentasi, termasuk keterbatasan regulasi. Karena itu silent mayority perlu bersuara dan bergerak mendukung pemerintah menjadi garda terdepan dalam merepresentasikan wajah Indonesia yang ramah, rukun, dan bebas dari radikalisme.

Fokus pencegahan

Propaganda yang dilancarkan kelompok radikal sangat masif terjadi di berbagai aspek. Konten radikal di dunia maya terlihat sangat bebas. Masyarakat yang hidup diwarnai ketimpangan sosial, pengangguran, rendahnya kemampuan literasi, menjadikan rentan terjerat ke dalam radikalisme dan terorisme.

Karena itu, salah satu dari multistrategi BNPT adalah menggalang elemen masyarakat membentuk forum koordinasi pencegahan terorisme (FKPT) di berbagai wilayah di Indonesia. Forum ini menjalankan tugas atau program pencegahan radikalisme dan terorisme.

Para pengurus FKPT terdiri dari para tokoh masyarakat, akademisi, tokoh adat, tokoh ormas, tokoh media, tokoh pemuda, tokoh perempuan, dan unsur pemerintah daerah. FKPT dituntut berperan aktif untuk menggandeng masyarakat berpartisipasi penuh mencegah aksi terorisme.

Hingga saat ini FKPT sudah tersebar di 32 provinsi. Dengan kehadiran FKPT di daerah diharapkan mampu mengantisipasi berbagai hal negatif terkait ideologi, radikalisme, dan terorisme di masyarakat. Salah satu upaya mencegah adalah dengan menggelar berbagai macam kegiatan untuk melahirkan ketahanan masyarakat dalam menghadapi dinamika perkembangan dunia khususnya radikalisme.

Secara konkret, FKPT berkunjung ke sekolah, perguruan tinggi, tempat ibadah, organisasi berbasis agama, pesantren, kelompok muda, untuk memberikan pemahaman dan melatih berbagai elemen masyarakat tentang bahaya terorisme, strategi, dan teknik menangkalnya. Ini penting karena masyarakatlah yang memiliki peran strategis memutus mata rantai berkembangnya paham radikal terorisme.

Era digital telah menghadirkan berbagai informasi ke seluruh belahan dunia, dapat diakses oleh siapa saja, di mana pun, dan kapan pun. meskipun pada satu informasi itu seragam, tetapi pada tingkat individu dapat diterima dengan berbeda, karena hal ini ditentukan oleh cara berpikir, sifat emosional serta tingkat spiritual individu yang menerima.

Kemahiran teroris memanfaatkan internet dan media sosial menjadikan masyarakat pengguna rentan. Berbagai propaganda dan doktrin mereka tersebar di dunia maya, mencari simpatisan, pendukung, dan rekrutmen baru. Tidak sedikit dari yang sekadar simpati, pendukung pasif berubah menjadi pendukung aktif.

Mewaspadai dan mengantisipasi pola tersebut, BNPT terus menggalakkan kontra-radikalisasi melalui kontra-narasi, kontra-propaganda, dan kontra-ideologi untuk meningkatkan imunitas dan daya tangkal masyarakat. BNPT menggelar berbagai kegiatan yang menggalang para generasi muda untuk menjadi duta damai dunia maya dengan konten damai dan positif.

Generasi muda adalah pengguna internet terbanyak. Sekitar 56,7 persen pengguna internet berusia 17-34 tahun (Data APJII, 2017). Tapi lemahnya literasi di kalangan anak muda menyebabkan mereka mudah terjaring dan terprovokasi konten yang mereka akses. Padahal mereka diharapkan mampu menjadi duta damai yang aktif melakukan literasi media, literasi digital, juga dapat mengajak lingkungan agar tak terjerumus dalam radikalisme.

Bencana kemanusiaan selalu menyertai di mana pun terorisme berada. Karena itu, negara bersama seluruh rakyat harus terus melakukan upaya menangkal dan mencegah terorisme.

Mari belajar dari Marawi!

SUHARDI ALIUS

KEPALA BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN TERORISME

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 24 Juni 2017, di halaman 7 dengan judul "Pelajaran dari Marawi".

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Pesan dari Gunung Kidul//Terima Kasih Garuda Indonesia//Lomba Menulis (Surat Pembaca Kompas)

Pesan dari Gunung Kidul

Setiap liburan akhir pekan, jalur lalu lintas menuju Gunung Kidul, Yogyakarta, selalu dipadati wisatawan yang akan menikmati keindahan pantai selatan. Dari rombongan bersepeda motor, mobil pribadi, hingga bus-bus besar, jumlahnya terus meningkat dari hari ke hari.

Dahulu untuk menuju pantai, paling padat adalah jalur jalan Baron. Sekarang, dengan bantuan google map, orang menjadi tahu jalan alternatif. Akibatnya, semua jalur menuju pantai menjadi ramai deru kendaraan.

Seiring naiknya jumlah wisatawan, ternyata naik pula angka kecelakaan di jalan dan di tempat wisata. Penyebab kecelakaan di jalan, di antaranya pengendara atau sopir belum mengenal medan.

Jalan memang mulus, tetapi banyak kelokan. Ada yang naik tinggi dan panjang, seperti di Pok Cucak dan Sadeng. Ada pula yang naik langsung belok atau turun tajam langsung belok, seperti di Girisubo. Hal ini sering membuat pengendara kaget dan hilang kendali.

Penyebab kecelakaan lain adalah ketidakpatuhan. Di pantai sudah ada tanda peringatan "dilarang mandi/berenang, berbahaya" masih saja ada yang melanggar dan akhirnya menjadi korban. Hal ini sudah berulang-ulang terjadi menimpa wisatawan.

Kini, menikmati liburan akhir tahun pelajaran sekolah sekaligus Idul Fitri, semoga pesan ini menjadi refleksi bersama agar kecelakaan dapat diminimalkan.

DRS WIYANA, MPD

Semanu Selatan RT 007 RW 042, Semanu, Gunung Kidul 55893

Terima Kasih Garuda Indonesia

Saat check in untuk penerbangan Surabaya menuju Jakarta, Kamis (18/5), kartu identitas saya berupa SIM A dan Kartu Garuda Miles atas nama Anindityas Irawati, tertinggal.

Kartu SIM A dan Garuda Miles tersebut telah dikirim ke alamat saya dan telah diterima tanpa kurang apa pun.

Mengingat kartu tersebut sangat saya butuhkan, maka atas nama pribadi saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada seluruh manajemen Garuda Indonesia, khususnya bagian Central Baggage Tracing yang telah membantu pengiriman kartu identitas tersebut,

Semoga Garuda Indonesia semakin maju dan berkembang.

ANINDITYAS IRAWATI

Jl Tebet Barat Dalam, Tebet, Jakarta Selatan

Lomba Menulis

Saya guru mata pelajaran Sosiologi sekaligus pembina OSIS di SMA swasta, Medan. Saya giat membimbing siswa untuk mengikuti lomba menulis yang diadakan berbagai lembaga. Selama beberapa tahun, banyak prestasi yang diraih siswa sehingga mereka kian bersemangat.

Namun, mereka kecewa saat mengikuti lomba menulis esai "Manusia Indonesia Pertama" Tribute to Soekarno yang diadakan Khatulistiwa Muda, beralamat di Jalan Ciateul, Bandung, sekitar pertengahan 2016.

Dalam lomba ini siswa saya bernama Rizky Adam Siregar dinyatakan sebagai juara III dalam akun Facebook Manusia Indonesia Pertama dan seharusnya berhak atas hadiah uang tunai Rp 2 juta. Namun, panitia terus menghindar memberikan hadiah dengan berbagai alasan.

Setelah didesak, akhirnya panitia menjanjikan akan mengirim hadiah itu akhir tahun 2016. Namun, hingga Mei 2017, tidak ada kabarnya.

Dalam lomba lain: Esai dan Quotes "Tribute to Syekh Nawawi al-Bantani" yang diadakan oleh Bangun Indonesia Institute, dijanjikan pemenang akan diumumkan 13 Oktober 2016.

Namun, sejak tenggat lomba berakhir, kontak panitia semakin sulit dihubungi. Hingga Mei 2017, tidak ada pemberitahuan apa pun dari panitia. Bahkan, akun Instagram panitia (@tributetosyekhnawawi) pun telantar.

Lomba berikutnya adalah menulis tentang CSI (PT Cakrabuana Sukses Indonesia) yang diadakan dengan tenggat November 2016. Kondisinya setali tiga uang.

Panitia tak dapat dihubungi melalui nomor kontak yang tertera pada poster maupun akun Facebook PT Cakrabuana Sukses Indonesia. Sama seperti lomba-lomba sebelumnya, hingga Mei 2017, tiada kabar atau pengumuman para pemenangnya.

Melalui surat ini, saya ingin menggugah kepedulian panitia maupun pihak-pihak lain yang terlibat. Jangan biarkan semangat generasi muda untuk gemar membaca dan menulis, akhirnya padam karena tertipu janji-janji palsu.

FRIZT HOTMAN DAMANIK

Harjosari I, Medan Amplas, Medan

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 24 Juni 2017, di halaman 7 dengan judul "Surat Kepada Redaksi".

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.