Bidvertiser

TUTORIAL MENYETIR

TUTORIAL MENYETIR
Pormadi Channel

Senin, 28 Mei 2018

ARTIKEL OPINI: Lansia dan SDGs (LILIS HERI MIS CICIH)

Saat ini, dunia menghadapi penuaan penduduk, dengan meningkatnya jumlah orang berumur tua, dan hidup lebih lama. Bahkan PBB memproyeksikan orang-orang yang berusia 60 tahun dan lebih (lansia) akan mencapai 2 juta orang pada tahun 2050.

Perubahan demografis seperti ini dialami juga oleh Indonesia, yang tentunya berimplikasi terhadap pembangunan berkelanjutan atau sustainable development goals (SDGs). Tahun 2015, PBB mencanangkan SDGs dengan tujuan untuk memenuhi hak orang, tanpa membedakan kelompok umur, dengan fokus khusus pada kelompok paling rentan, termasuk warga lansia.

Mengacu pada data BPS, proporsi penduduk lansia Indonesia tahun 2010 sudah 7,6 persen, meningkat menjadi 8,5 persen tahun 2015. Ini berarti penduduk lansia semakin banyak dan berdampak pada tantangan pemenuhan kebutuhan yang berbeda dengan kelompok penduduk lainnya.

Bertambahnya sosok penduduk lansia ini perlu dilihat dari karakteristiknya, juga perbedaan orientasi, dibandingkan periode sebelumnya. Dulu, ketika memasuki usia 50 tahun, orang tersebut dianggap sudah tua. Mereka umumnya dianggap sudah tidak dapat melakukan hal-hal yang biasa dilakukan kaum muda.

Lansia dan kesehatan

Saat ini, warga lansia menyuarakan keinginannya untuk dihargai haknya. Mereka bersemangat masih ingin berkarya sesuai kemampuan dan kapasitasnya. Mereka ingin mandiri dan memperlihatkan eksistensi dirinya.

Sebagaimana dilansir The Economist (2017), "The New Old", adanya pengakuan terhadap para warga lansia yang pada kenyataannya masih sehat dan aktif. Ini didasarkan pada kondisi lansia sekarang yang dianggap jauh lebih baik daripada kakek-neneknya dulu ketika usia yang sama.

Kondisi seperti ini sering dikaitkan dengan capaian dalam usia harapan hidup sehat (healthy life expectancy atau HALE), baik saat lahir maupun saat usia 60 tahun dan lebih, yakni suatu perkiraan rata-rata tahun hidup yang masih dijalani yang sudah mempertimbangkan kondisi kesehatan penduduknya.

Jika dilihat hasil estimasi Badan Kesehatan Global, Indonesia mengalami peningkatan HALE saat lahir maupun usia 60 tahun dan lebih. Selama kurun 16 tahun (2000-2016), peningkatan HALE saat lahir sekitar tiga tahun, 59,7 tahun menjadi 63 tahun. Sementara untuk saat lansia meningkat sekitar satu tahun, dari 12,6 menjadi 13,6 tahun.

Angka ini masih jauh lebih rendah dibandingkan capaian HALE negara maju. Umumnya negara maju mencapai lebih dari 70 tahun untuk saat lahir, dan lebih dari 20 tahun saat lansia. Artinya, pada saat lansia, perkiraan rata-rata tahun hidup yang masih dapat dijalani dalam keadaan sehat sekitar 20 tahun.

Tentunya ini merupakan tantangan bagi pemerintah dan para pemangku kepentingan terkait, bagaimana meningkatkan status kesehatan dan kesejahteraan penduduknya. Meskipun diperkirakan warga lansia Indonesia masih sekitar 14 tahun hidup dalam kondisi sehat, masih banyak yang tidak menikmati hidup sejahtera.  Begitu juga dengan kondisi penduduknya secara umum, seperti dikemukakan UNDP pada Laporan Pembangunan Manusia Tahun 2016, bahwa 140 juta penduduk masih hidup dengan penghasilan kurang dari Rp 20.000 per hari.

Padahal, disebut-sebut bahwa Indonesia mengalami penurunan kemiskinan secara tajam dalam dua dekade terakhir. Tentunya kemiskinan dan ketimpangan seperti ini harus menjadi  perhatian pokok, terutama dalam menyongsong era lansia di masa depan. Negara mempunyai pekerjaan besar dalam menanganinya. Apalagi ini merupakan salah satu tujuan pertama SDGs yang harus dicapai setiap negara, yaitu "Menghapus segala bentuk kemiskinan".

Jika kondisi kemiskinan ini menimpa para warga lansia, dan diiringi kondisi kesehatan yang buruk, tentunya akan menambah beban negara. Sebab, umumnya warga lansia menderita penyakit degeneratif yang kadang lebih dari satu jenis, dan memerlukan biaya cukup tinggi. Sementara dari data BPS tahun 2015 tampak masih 55 persen dari 21,5 juta warga lansia yang belum memiliki jaminan kesehatan.

Kementerian Kesehatan RI telah mencanangkan kesehatan lansia merupakan salah satu prioritas pembangunan, dan menjadi target dalam Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Sebagaimana kita ketahui bahwa JKN ditargetkan untuk menjangkau seluruh rakyat (universal health coverage/UHC), yang masih menghadapi tantangan dalam implementasinya.

Jika hal ini dapat dibenahi dan diimplementasikan dengan baik, maka dapat mencapai tujuan SDGs ke-3, yaitu "Menjamin kehidupan yang sehat dan meningkatkan kesejahteraan penduduk di segala usia". Di usianya yang masih belia, memang pelaksanaan program BPJS Kesehatan sampai saat ini masih menjadi bahan perbincangan di berbagai kalangan.

Lansia dan pendidikan

Selain sehat, penduduk juga perlu berpendidikan sehingga menjadi manusia yang berkualitas. Saat ini penduduk lansia Indonesia masih didominasi oleh yang bependidikan hanya sampai tamat SD, sekitar 56 persen.

Namun, di masa depan, diperkirakan penduduk lansia semakin berpendidikan, dengan tidak menutup kemungkinan mereka masih ingin melanjutkan sekolah atau kuliah. Tentunya tujuan mereka bukan untuk mencari pekerjaan seperti usia muda umumnya, melainkan untuk eksistensi diri. Ini merupakan tantangan tersendiri dalam pemenuhan hak penduduk lansia dalam bidang layanan pendidikan, yang juga merupakan tujuan SDGs ke-4, yaitu "Menjamin kualitas pendidikan yang adil dan inklusif serta meningkatkan kesempatan belajar seumur hidup untuk semua".

Kapasitas pendidikan yang dimiliki penduduk lansia cukup memadai, memungkinkan mereka memperoleh pekerjaan yang layak sesuai usianya. Hal ini menunjang pencapaian tujuan SDGs ke-8, yaitu "Meningkatkan pekerjaan yang layak untuk semua". Terkait pekerjaan, hal yang masih menjadi tantangan adalah adanya ketimpangan gender dalam hal pekerjaan.

Perempuan, termasuk lansia, meski mencurahkan waktu lebih banyak dalam kegiatan, tetapi banyak yang tidak dianggap bekerja. Pada kondisi tertentu, perempuan memperoleh upah lebih rendah daripada laki-laki. Pembenahan dalam hal ini perlu dilakukan karena merupakan tujuan SDGs ke-5, "Mencapai kesetaraan gender dan memberdayakan semua perempuan".

Upaya mencapai lansia sejahtera, sehat, dan aktif pada dekade 2020-2030 perlu dilakukan secara multisektoral dengan memperhatikan tujuan SDGs lainnya. Tidak hanya ditujukan untuk peningkatan kapasitas lansia itu sendiri, tetapi ditunjang faktor eksternal lainnya. Kota tempat tinggal lansia dibuat inklusif, aman, dan berkelanjutan; dan diperkuat dengan adanya kelembagaan yang tangguh dalam memberikan layanan kepada penduduk lansia.

Selain itu, untuk menjaga keberlanjutan program lansia, maka perlu didukung dengan melakukan kemitraan skala nasional dan global. Tentu saja agar tujuan SDGs tersebut terealisasi, perlu ada strategi dan rencana aksi tentang penuaan penduduk. Terkait dengan ini, sejak beberapa tahun lalu Bappenas menginisiasi perumusan Strategi Nasional Kelanjutusiaan di Indonesia demi mencapai "Masa Depan yang Kita Inginkan" untuk generasi sekarang dan mendatang.

Lilis Heri Mis Cicih Peneliti dan Dosen Universitas Indonesia


Kompas, 28 Mei 2018

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Makna Merdeka//Tersiksa Mengurus KTP Elektronik (Surat Pembaca Kompas)


Makna Merdeka

Indonesia adalah negara merdeka. Bangsa Indonesia bangsa merdeka. Maka, setiap warga negara Indonesia—lelaki-perempuan, tua-muda, kaya-miskin, berpendidikan-tak berpendidikan, ikut partai-independen—adalah manusia merdeka. Merdeka itu hak, dijamin UUD.

Ironisnya, banyak pihak melontarkan kecaman kepada pemimpin negara dan sesama warga—termasuk hujatan dan ujaran kebencian—atas dalih kemerdekaan berbicara. Di Indonesia kini orang bebas berbuat dan bicara apa saja: santun-kasar, positif-negatif, masuk akal-tak masuk akal, bermoral-tak bermoral, berdasar-tidak berdasar, faktual-hoaks. Atas nama merdeka.

Peristiwa seorang ibu dengan anaknya yang ingin menikmati Hari Tanpa Mobil di Ibu Kota, tetapi diusik sekelompok orang bertubuh kekar yang ingin ganti presiden, menunjukkan secara telanjang bahwa kemerdekaan itu dianggap hanya milik segelintir orang, mereka yang justru mengabaikan kemerdekaan orang lain, yang tak mampu menghargai dan menghormati hak kemerdekaan orang lain.

Hasil studi (2018) seorang psikolog sosial UI tentang perilaku bullying menunjukkan bahwa perilaku ini "gandeng" dengan kehampaan empati, tipisnya kepedulian sosial, sengaja dirancang dan dilakukan untuk memenuhi hasrat kuasa seseorang terhadap orang lain—bentuk kekerasan yang dilakukan dengan sukacita, bersemangat, dan dengan sengaja dipertontonkan secara terbuka.

Bayangkan apa yang akan terjadi jika hal ini di Indonesia dibiarkan terus! Orang bebas merdeka merundung sesamanya di depan publik. Di satu sisi akan kian banyak sesama anak bangsa yang jadi korban; di sisi lain akan kian banyak orang yang berpotensi jadi sosiopat yang berkeliaran di dalam masyarakat.

Harus ada tindakan jelas dan nyata. Jangan sampai usikan yang dipertontonkan dan dialami ibu dan anak di atas jadi semacam teror psikologis—sengaja dilakukan untuk menghancurkan bangsa ini dari dalam dengan menumbuhkan bingung, gundah, kacau pikir, rasa tak nyaman juga tidak aman, dan pada akhirnya ketakutan.

Kalau itu yang memang diniatkan, jawabannya hanya satu: LAWAN!

Zainoel B Biran Warga RI yang Prihatin

 

KOMPAS/WISNU WIDIANTORO

Ilustrasi: KTP Elektronik.

Tersiksa Mengurus KTP Elektronik

Setelah mengurus surat pengantar RT/RW di Kelurahan Kebalen, pada 14 Mei 2018 saya mengantar putri saya, Christine, ke Kantor Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, untuk perekaman data KTP-el karena usianya pada 6 Mei 2018 sudah 17 tahun. Sekitar pukul 08.30 saya tiba di sana. Rupanya puluhan orang telah antre sejak subuh.

Semua berkas pemohon diletakkan di atas meja operator. Pemohon dengan sabar menunggu panggilan untuk perekaman data dirinya dan pemotretan meski berada di ruang sempit, panas, pengap. Di sana ada AC, tetapi dipadamkan. Untuk menyiksakah?

Sekitar pukul 10 operator mengumumkan "jaringan mati" sehingga perekaman data tak dapat dilakukan. Hingga saat itu perekaman data baru untuk beberapa orang saja.

Berkas pemohon lain, termasuk berkas putri saya, dikembalikan. Beberapa pemohon terlihat kesal dan emosional. Salah satu pemohon mengatakan bahwa dua putrinya akan dikeluarkan dari tempat bekerja di kawasan Pulogadung, Jakarta Timur, jika belum memiliki KTP elektronik.

Sebelum pulang ke rumah, saya dapat informasi dari pemohon lain bahwa mereka telah bolak-balik ke kantor kecamatan untuk perekaman data, tetapi belum dapat giliran.

Ada warga yang mengaku sudah tiga bulan menunggu. Diperkirakan jumlah warga pemohon KTP-el setiap hari berkisar 50-100 orang. Pada hari tertentu bisa lebih, tapi mereka hanya dilayani satu operator.

R Bangun Kelurahan Kebalen, Kecamatan Babelan, Bekasi, Jawa Barat


Kompas, 28 Mei 2018

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

TAJUK RENCANA: Kebuntuan Politik di Italia (Kompas)

REUTERS/TONY GENTILE

Perdana Menteri Italia, Giuseppe Conte berbicara di hadapan media massa seusai pertemuan konsultasi dengan partai-partai politik di Majelis Rendah Parlemen Italia di Roma, Italia, Kamis (24/5/2018).

Kebuntuan baru menghampiri Italia. Presiden Sergio Mattarella tampak bersikeras pada posisinya untuk tidak menyetujui usulan menteri oleh pemerintah baru.

Perdana Menteri Giuseppe Conte pada Jumat pekan lalu bertemu Presiden Mattarella yang diperkirakan bertujuan membahas isu kabinet. Di dalam kabinet baru itu ada nama Paolo Savona, 81 tahun, sebagai Menteri Ekonomi. Ia dikenal sebagai pengkritik keras Uni Eropa. Dengan sikap Presiden yang menolak nama Savona, Conte belum berhasil membentuk pemerintahan meskipun sudah ditunjuk sebagai perdana menteri beberapa hari sebelumnya.

Merespons pertemuan itu, pemimpin kelompok sayap kanan Liga Utara, Matteo Salvini, yang mendukung penunjukan Savona, sangat marah. Kemarahan disampaikannya melalui media sosial Facebook, Jumat lalu. Kemarahan ditunjukannya lagi pada Sabtu dengan menampilkan di Twitter karikatur di media Jerman yang mengecam Italia. Salvini lalu menyebut bahwa politisi dan media Jerman menghina warga Italia sebagai pengemis, pemalas, penghindar pajak, dan tak tahu berterima kasih.

Salvini hanya bisa marah meski ia bersama pemimpin Gerakan 5 Bintang, Luigi Di Maio, merupakan pihak yang mengajukan Conte sebagai perdana menteri. Salvini dan Di Maio tidak memiliki wewenang untuk menunjuk menteri. Penunjukan menteri sepenuhnya merupakan wewenang perdana menteri serta Presiden Italia.

Sebelum ini, Gerakan 5 Bintang dan Liga Utara membentuk koalisi setelah kebuntuan terjadi selama lebih kurang 80 hari pascapemilu pada Maret lalu. Koalisi yang berintikan kekuatan sayap kanan ini memiliki sikap anti-Uni Eropa. Gabungan program kerja mereka diperkirakan akan menambah defisit anggaran, sesuatu yang ditentang keras oleh Brussels.

Setelah akhirnya bersatu untuk mengakhiri kebuntuan dalam negosiasi koalisi, kubu sayap kanan Italia kini mendapati kenyataan bahwa mereka menghadapi tantangan baru, yakni garis politik Presiden Mattarella yang menghendaki Italia tidak sampai diisolasi oleh UE. Karena itu, Mattarella, yang dipilih parlemen saat lembaga legislatif itu masih didominasi kubu kiri tengah, berusaha mencegah Savona sebagai Menteri Ekonomi. Situasi ini—tarik-menarik antara sayap kanan Italia yang menguasai pemerintahan dan Presiden Mattarella—merupakan kebuntuan politik baru di Italia.

Dengan demikian, Mattarella kelihatan menjadi harapan terakhir Eropa untuk mencegah pemerintahan Italia sepenuhnya berada di posisi yang berseberangan dengan Brussels. Proses politik, tawar-menawar, dan dialog harus dilakukan oleh kubu sayap kanan Italia agar mereka dapat menjalankan mandat rakyat untuk menjalankan pemerintahan.

Keengganan kubu sayap kanan untuk melunak akan memperpanjang kebuntuan politik baru, yang bukan tak mungkin akan berujung pada penurunan kepercayaan masyarakat terhadap mereka

Kompas, 28 Mei 2018

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

RENUNGAN WAISAK: Memperkokoh Kesatuan Bangsa (BHIKKHU SUBHAPANNYO)

KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA

Umat Buddha menjalani prosesi pengambilan Api Dharma di Mrapen, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, Minggu (27/5/2018). Pengambilan api untuk dibawa ke Candi Mendut tersebut merupakan rangkaian perayaan Waisak.

Hari Trisuci Waisak memperingati tiga peristiwa suci dalam kehidupan Guru Agung Buddha Gautama, yaitu kelahiran Siddhartha Gautama calon Buddha, pencapaian Pencerahan Sempurna, dan kemangkatan Buddha.

Tiga peristiwa suci itu terjadi pada hari yang sama, yaitu hari purnama raya, bulan Waisak, dengan tahun yang berbeda-beda: kelahiran calon Buddha tahun 623 SM di Kapilavasthu, Nepal; Pencerahan Sempurna tahun 588 SM di Bodhagaya, India; dan Buddha Gautama mangkat tahun 543 SM pada usia 80 tahun, di Kusinara, India.

Hari Trisuci Waisak 2562 tahun ini jatuh pada 29 Mei 2018. Seluruh umat Buddha di dunia memperingati Trisuci Waisak dengan laku puja bakti, semadi pengembangan kebijaksanaan, serta kegiatan sosial budaya Buddhis lainnya.

Sangha Theravada Indonesia mengangkat tema Trisuci Waisak 2562/2018: "Bertindak-Berucap-Berpikir Baik Memperkokoh Keutuhan Bangsa". Tema itu sangat relevan untuk dihayati dalam rangka menghadapi berbagai persoalan bangsa dewasa ini.

Kehidupan dewasa ini

Pertengkaran menjadi bagian dari kehidupan dewasa ini, seperti pertengkaran dalam kehidupan sosial masyarakat, bahkan pertengkaran dalam kehidupan umat beragama menjadi hal ironis, karena sebenarnya bertentangan dengan ajaran agama.

Setiap ajaran agama mengajarkan nilai-nilai kebajikan, dan menjauhi segala kejahatan, semestinya umat beragama memiliki rasa malu berbuat buruk dan takut akibat perbuatan buruknya. Pertengkaran didasarkan pada ketidaktahuan, dan dilakukan karena tidak melihat bahaya dari pertengkaran.

Buddha Gautama menasihati seorang biku yang keras kepala dan suka bertengkar dengan sesama biku: siapa pun yang memendam kebencian di dalam dirinya dengan berpikir bahwa ia telah menyiksa diriku, ia telah memukulku, ia telah mengalahkanku, bahkan ia telah merampas milikku, maka kebencian tak akan lenyap dalam benak
hatinya. Lebih lanjut beliau mengatakan: di dunia ini, kebencian hanya dapat dilenyapkan dengan cinta kasih, ini adalah kebenaran abadi. Mengapa masih ada orang yang menyukai pertikaian?

Karena masih banyak orang tidak mengerti bahwa kita dapat binasa di dunia akibat dari pertikaian, ia yang memahami kebenaran ini akan berusaha melenyapkan segala pertikaian.

Pada suatu saat terjadi pertempuran antara Raja Kosala dan Raja Ajatasattu di India. Raja Kosala kalah. Kemudian berulang pertempuran terjadi lagi, kali ini kemenangan pada Raja Kosala dan kekalahan pada Raja Ajatasattu.

Buddha memberikan nasihat demikian: kemenangan menimbulkan kebencian, orang yang kalah hidup menderita, setelah dapat melepaskan diri dari kemenangan dan kekalahan, orang yang damai itu akan hidup bahagia.

Memperkokoh keutuhan

Berpikir baik berarti bebas dari kebencian, mempertimbangkan buruknya kebencian, dan manfaatnya membuang segala bentuk kebencian. Kebencian membatasi dan cinta kasih membebaskan. Kebencian menimbulkan penyesalan, cinta kasih menghasilkan kedamaian dan ketenteraman hidup.

Kebencian bersifat menghasut, sedangkan cinta kasih bersifat menenteramkan. Kebencian memecah belah, cinta kasih melembutkan dan menyejukkan hati nurani. Mereka yang dapat memahami dengan benar dan menyadari akibat dari kebencian dan manfaat cinta kasih akan memiliki keberpihakan pada pengembangan cinta kasih.

Cinta kasih berpasangan dengan welas asih, yaitu sifat luhur yang membuat orang baik turut merasakan penderitaan yang dialami orang lain. Bagaikan seorang ibu yang bertindak, berucap, dan berpikiran baik, penuh welas asih menyingkirkan kesulitan hidup anaknya.

Buddha Gautama memberikan nasihat perihal kerukunan hidup, bagaimana agar saling dikenang, saling mencintai, saling dihormati, saling menolong, memiliki kepedulian, menjaga keutuhan persatuan. Dengan cara, seorang bertindak, berucap, dan berpikiran disertai cinta kasih terhadap sesamanya.

Jika membantu orang lain disertai pikiran cinta kasih, begitu pula berbicara disertai pikiran cinta kasih, dan sekalipun berpikir, maka pikirannya diliputi cinta kasih, bebas dari membenci. Di samping itu, ia senang berbagi menolong sesama, ia juga memiliki kesepahaman dalam hal moral kebajikan, dan pandangan benar terhadap kehidupan ini.

Marilah umat Buddha memperkokoh diri dengan memahami ajaran Buddha sebagai penuntun perjalanan hidup. Bertindak baik, terkendali perilakunya: jangan membunuh, jangan mencuri, jangan berbuat asusila, jangan berbohong dengan menyebarkan hoaks, dan jangan minum/makan apa pun yang memabukkan.

Berbicara benar, terkendali dalam ucapannya: jangan menipu, jangan menghasut sebagai provokator, jangan memfitnah, jangan menyebarkan ujaran kebencian yang dapat memecah belah serta menimbulkan pertengkaran. Berpikiran baik, terkendali dalam pikirannya: bebas dari pikiran hawa-nafsu, yakni jangan berpikiran serakah, benci, dan egoistis.

Seseorang hidup dalam kedamaian tanpa memiliki musuh karena musuh terbesar yang ada dalam dirinya telah ditaklukkan, yaitu keserakahan, kebencian, dan keegoisan, sehingga terciptalah keutuhan dalam kehidupan bangsa kita.

Sejalan dengan pendapat Menteri Agama Republik Indonesia tentang moderasi agama, bahwa setiap umat beragama hendaknya tidak hanya memahami agama pada tataran tekstual, tetapi juga kontekstual; keduanya perlu dipahami dan menjadi rujukan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Hal ini sangat penting untuk mendukung terjadinya tindakan, ucapan, dan pikiran baik demi memperkokoh keutuhan bangsa.

Semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu melindungi. Selamat Hari Trisuci Waisak 2562/2018.

Bhikkhu Subhapannyo, Mahathera Ketua Umum Sangha Theravada Indonesia

Kompas, 28 Mei 2018

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

TAJUK RENCANA: Momentum Perayaan Waisak (Kompas)

KOMPAS/RADITYA HELABUMI

Umat Buddha mengikuti prosesi memandikan rupang Buddha di Wihara Ekayana Arama, Jakarta, menjelang Perayaan Waisak, Minggu (27/5/2018). Puncak Perayaan Tri Suci Waisak 2562 BE/2018 secara Nasional akan dipusatkan di Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.

Umat Buddha, Selasa ini, 29 Mei 2018, memperingati hari raya Waisak 2562/2018. Perayaan hari keagamaan selalu menjadi momentum menyampaikan pesan.

Begitu juga dengan perayaan Waisak tahun ini. Perayaan Waisak menjadi penting untuk mengukuhkan kembali jalinan kebangsaan kita sebagai bangsa Indonesia. Jalinan kebangsaan itu dicoba terus dikoyak demi kepentingan politik praktis kekuasaan. Situasi kebangsaan itu sejalan dengan tema perayaan Waisak 2018, "Bertindak-Berucap-Berpikir Baik Memperkokoh Keutuhan Bangsa".

Negara memberikan jaminan penuh kepada umat Buddha Indonesia untuk merayakannya. Itu adalah satu pesan penting dalam setiap peringatan hari besar keagamaan. Kebetulan, perayaan Waisak 2018 berbarengan dengan ibadah puasa bagi saudara kita yang beragama Islam. Semangat toleransi dan bertenggang rasa itulah pesan lain yang bisa diambil dari perayaan Waisak 2018.

Kebebasan beribadah dijamin konstitusi. Tiga peristiwa suci dari perayaan Waisak terjadi pada satu hari purnama sidi—kelahiran Buddha Gautama 623 SM, pencerahan sempurna 588 SM, dan wafatnya Buddha Gautama 543 SM—tidak selesai hanya dengan peringatan, tetapi menjadi momen refleksi yang hidup. Kemuliaan Buddha dengan ajarannya yang akrab dengan anti-kekerasan dan serba damai relevan dengan kehidupan aktual kita, bangsa Indonesia.

Semangat anti-kekerasan yang menjadi tema sentral hampir semua agama terasa relevan dengan situasi kekinian, khususnya di tahun politik 2018 dan tahun politik 2019. Kekerasan tidak hanya mewujud dalam tindakan seperti aksi teror, tetapi juga kekerasan verbal, ujaran penuh kebencian yang dengan mudah kita bisa dapat di dunia digital. Tahun politik adalah tahun demokrasi. Gagasan pokok dari demokrasi adalah kontestasi gagasan, adu program, dan sangat jauh dari kekerasan.

Kita berharap semangat berkontestasi dalam pilkada dan pemilu presiden dalam koridor demokrasi tidaklah sampai mencabik persaudaraan kita sebagai anak bangsa yang sejak dulu sudah majemuk. Perbedaan agama, perbedaan suku, perbedaan bahasa, perbedaan politik adalah keniscayaan di Indonesia dalam payung Pancasila. Indonesia menjadi indah ketika umat Buddha merayakan Waisak dan pada saat bersamaan umat Islam menjalankan ibadah puasa. Dan, semuanya berjalan berdampingan.

Melalui momentum perayaan Waisak, kita mendorong terus kian terjalinnya persatuan bangsa. Persatuan Indonesia, sila ketiga dari Pancasila, menjadi tempat bertemunya sila-sila lain dari Pancasila. Hasrat untuk tetap hidup bersama dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia menjadi energi penting, bahkan teramat penting, untuk kian memperkokoh eksistensi negara bangsa.

Memperkokoh persatuan bangsa yang diangkat sebagai tema perayaan Waisak menjadi relevan di tengah kekhawatiran sebagian elite akan terjadinya pembelahan sosial. Kontestasi politik tidak harus membawa bangsa ini terus terbelah. Elite politik punya punya peran besar untuk itu.

Selamat Waisak bagi yang merayakannya

Kompas, 28 Mei 2018

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.